Profil : Made Wianta Kanvas Saja Tak Cukup Menampung Ide
Ketika kanvas dianggap tak cukup buat menampung ide-ide yang membludak, media lain jelas sangat dipedukan. Itulah yang mendasari perupa Made Wianta kerap memakai media lain untuk menyalurkan energi yang terus menyala-nyala. Suatu energi kreatif estetis yang dikombinasikan dengan isu-isu yang sedang mengemuka di masyarakat. Memang, lelaki kelahiran Apuan, Tabanan talum 1949 ini senantiasa ingin menghasilkan karyakarya yang bergema dan berguna bagi kelangsungan peradaban.
Menjelang pergantian abad yang baru lalu, misalnya, ia sukses menggelar Art And Peace yang meramu seni sastra, puisi, tarian, lukisan, dan teknologi menjadi pertunjukan spektakuler untuk menyerukan perdamaian dalam dunia yang serba dilanda konflik ini. Seni kolosal di Pantai Padanggalak, Sanur ini melibatkan 2000 penari, helikopter, perahu boat. Helikopter yang lepas landas dari pantai di Tabanan ini menuju ke arah Pantai Padanggalak, Sanur untuk menurunkan 2000 meter kain berisikan seruan perdamaian dalam berbagai bahasa.
Bagi lelaki yang tinggal di Denpasar ini, sejarah umat manusia, sarat dengan kekerasan untuk mempertahankan kepercayaan, agama, hak milik, maupun eksistensi. Penjajahan di atas bumi terus terjadi. Di alam kekinian pun pertempuran terus terjadi, baik di bidang ideologi, ekonomi, agama, maupun kepemilikan. Alhasil, perdamaian ada dalam pembicaraanpembicaraan resmi belaka. Adalah tugas semua orang untuk menyerukan perdamaian, terutama memberi panduan kepada kaum muda untuk mencintai perdamaian. Art and Peace yang digagas Wianta sejalan dengan keinginan membuat semua orang melek bahwa perdamaian sangat membahagiakan umat manusia.
Sesungguhnya, Art and Peace ini bukan yang pertama buat Wianta untuk menyerukan perdamaian lewat keseman. Pada 1982, ia sudah menampilkan pertunjukan di Pantai Parang Tritis, Yogyakarta. Intinya, ia ingin melakukan penyucian kembali air laut yang semakin terpolusi tumpahan minyak. Pada 1993, Wianta menggelar Procession untuk merespon transformasi masyarakat Bali dari masa agraris menuju era industrial. Dulu, orang Bali cukup berjalan kaki menuju pura. Namun kini mereka memakai kendaraan. Puji-pujian yang dulu dilontarkan secara lisan pun kini bisa didengar lewat loudspeaker. Banyak nilainilai tradisi utama yang hilang.
Pada 1997, pelukis ini menampilkan pertunjukan di tanah kelahirannya sebagai respon dari perbuatan manusia yang semakin tidak ramah terhadap alam dan lingkungan. la ingin menampilkan penghargaannya terhadap misteri kehidupan, impian-impian kuno, dan alam gaib. Pohon-pohon besar di Apuan bukanlah pohon-pohon biasa. Sebagaimana sungai dan batu-batu, mereka adalah gudang spirit. Dalam pertunjukan ini, bola-bola api dibikin bergerak melintasi kabel kecil. Wianta lahir dalam keluarga Hindu. Bahkan Ayahnya pemimpin spiritual keagamaan di lingkungannya. la kemudian menikah dengan perempuan jawa beragama Islam. Wianta belajar banyak bahwa agama bisa saja menciptakan konflik. Lantas, ia pun lebih suka dengan filsafat. Visinya terhadap lingkungan tak cuma terbentuk dari latar belakangnya dalam lingkungan Bali yang komunal, dari studi keseniannya di Yogyakarta dan keberadaannya di Belgia tahun 1976, namun juga dari serangkaian kekerasan yang ia lihat dalam hidup ini. Pada masa G 30 S/PKI tahun 1965, ia melihat dengan mata kepala sendiri, pemudapemuda yang terluka bahkan dibantai. Hal ini membuatnya trauma setengah mati. Tak cuma itu, kekerasan di Timor Timur tahun 1975 membuatnya "mual".
Awal 1990-an, Wianta telah menjadi artis yang memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah sosial dan politik dan merasa ingin membantu korban kekerasan, wabah, dan bencana alam. Tahun 1993 ia mengorganisasikan Art for Flores untuk meyumbang korban bencana alam. Pada tahun yang sama, ia juga menggelar pertunjukan tunggalnya di Fort Mason Center, San Ftansisco untuk membantu riser penanggulangan AIDS di Asia Tenggara.
Dulu, untuk beberapa waktu, Wianta menampilkan karya-karya figuratif yang didorong oleh tema-tema etnik dan surealistis. Ia terfokus pada dirinya sebagai orang Bali dan jiwa manusia. Karyakarya pertamanya, semisal Crying Candles, menurut penulis dan kritikus seni Marc Bollance, menunjukkan bahwa Wianta percaya terhadap emosi, bukan cuma emosi pada manusia, namun juga benda seperti lilin. Akhir 1970-an ia meninggalkan Indonesia. la pun menemukan kultur yang lain dengan persepsi yang lain pula. Maka, pertengahan 1970-an, ia mengubah karya-karyanya menjadi abstrak, tak lagi tergantung pada akar budayanya. la mulai lebih konseptual, lebih coba-coba dan lebih intelektual. Dari situ jelas Wianta Semakin memperkaya khasanah seni dunia.
Wianta lantas meminjam konsep dan bentuk dari tradisinya. Segitiga, misalnya, secara intensif digunakan Wianta dalam "Periode Segitiga (Triangle Period)". Segitiga, sebagaimana kita ketahui, merupakan simbol universal, namun juga berkonotasi khusus dalam tradisi Hindu. Segitiga mencerminkan keseimbangan, perdamaian, dan pembuatan dunia menjadi tiga bagian. Yang tertinggi milik Tuhan, yang tengah milik manusia, sedangkan yang bahwh milik hewan dan tumbuh-tumbuhan. Belakangan seniman ini menampilkan segitiga untuk mewakili pertempuran antargalaksi. jelas ini merupakan simbol perubahan dari perspektif lokal menuju internasional. Tahun 1990-an, Wianra lebih terlibat pada problem-problem yang dialami peradaban. Boleh dikata, tema sentral karya
karyanya adalah destruksi dan dekonstruksi. Kekerasan dan penghancuran yang terjadi di jagad ini menjadi fokus perhatiannya. Mulailah ia menciptakan simbol-simbol semua ini lewat berbagai media. Tak cuma kanvas, ia pun memakai besi, baja, kabel, dan lain-lain sebagai simbol kekerasan dan agresi. Seni instalasi yang giat dikerjakannya menampilkan interaksinya dengan lingkungan. Sedangkan Art and Peace adalah kelanjutan dari semua itu. Tak cuma prestasi yang diraihnya, namun juga permulaan baru. Lebih jauh, ayah dua putri ini menciptakan rangkaian karya hitam putih yang berjudul "The Wave Paintings". Lukisan-lukisannya ini diilhami oleh alam dan pertunjukan Art and Peace sendiri. Dua contoh menonjol adalahThe Waves of Life dan The Waves of Peace. Karya Wianta Embryo menyimbolkan kehidupan baru.
Tak cuma berhenti di situ, Wianta terus berkarya. Beberapa bulan lalu, misalnya, pada HUT ke5 Museum Rudana, di Ubud, Bali, ia mempersembahkan performing art berjudul Persembahan untuk Dewi Sri yang didukung 21 penati wanita bergaun putih. Pertunjukan itu juga menampilkan hasil karya berupa pembuatan gunungan betas 2000 kg dan telur 2000 buah. Tentu saja Wianta ingin mengingatkan, betapa kebudayaan agraris selama ini terabaikan. Padahal ini bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Indonesia. la ingin ucapkan terima kasihnya kepada dewi kesuburan yang telah melimpahkan anugerah kesuburan tanah.
Hingga kini Wianta menghasilkan 14000 karya seni, baik berupa sket, lukisan, instalasi, dan dua buku puisi ciptaannya. )))) alpha savitri